PKRS

Hantavirus: Penyakit Baru yang Perlu Anda Waspadai

Tim Redaksi RS Vania
9 Juni 2026
3 menit baca
Hantavirus: Penyakit Baru yang Perlu Anda Waspadai

Hantavirus kembali menjadi perhatian global pada tahun 2026. Kementerian Kesehatan Indonesia telah mengambil langkah proaktif untuk mencegah masuknya penyakit ini ke wilayah Indonesia. Meskipun belum menjadi wabah besar di Indonesia, pemahaman masyarakat tentang penyakit ini sangat penting sebagai bagian dari kesiapsiagaan kesehatan.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus adalah virus yang ditularkan terutama oleh tikus dan hewan pengerat lainnya. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur hewan yang terinfeksi, atau melalui gigitan hewan tersebut. Ada dua bentuk penyakit utama akibat Hantavirus: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang umum di Amerika, dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih sering di Asia dan Eropa.

Gejala Infeksi Hantavirus

Masa inkubasi Hantavirus berkisar antara 1-8 minggu setelah terpapar. Gejala awal meliputi kelelahan ekstrem, demam, nyeri otot terutama di paha, punggung, dan bahu. Pada HPS, gejala ini dapat berkembang menjadi sesak napas berat akibat akumulasi cairan di paru-paru. Pada HFRS, gejalanya meliputi demam tinggi, sakit kepala, gangguan penglihatan, mual, dan nyeri perut.

Siapa yang Berisiko Terinfeksi?

Orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi Hantavirus adalah mereka yang tinggal di daerah dengan populasi tikus yang tinggi, bekerja di bidang pertanian atau perkebunan, sering melakukan kegiatan di luar ruangan seperti berkemah, serta tinggal di rumah yang tidak bersih atau mudah dimasuki hewan pengerat.

Pencegahan Infeksi Hantavirus

Pencegahan Hantavirus berfokus pada pengendalian populasi tikus dan menghindari kontak dengan hewan pengerat. Langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat, menutup lubang-lubang yang bisa menjadi akses masuk tikus, menggunakan masker saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus, serta tidak menyentuh tikus liar atau hewan pengerat dengan tangan kosong.

Penanganan dan Pengobatan

Belum ada pengobatan spesifik atau vaksin untuk Hantavirus. Penanganan bersifat suportif, yaitu dengan menjaga fungsi organ tubuh, terutama paru-paru dan ginjal, hingga tubuh mampu melawan infeksi sendiri. Pasien umumnya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Tingkat kematian akibat HPS bisa mencapai 30-40%, sehingga pencegahan adalah strategi terbaik.

Respons Indonesia Terhadap Ancaman Hantavirus

Kementerian Kesehatan Indonesia telah memperkuat sistem surveilans untuk memantau penyebaran Hantavirus secara global dan mendeteksi kemungkinan kasus di Indonesia sejak dini. Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan kepada fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mencurigakan, terutama setelah terpapar dengan lingkungan yang banyak tikusnya.

Referensi

1. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Hantavirus: Signs and Symptoms, Transmission, Prevention. Atlanta: CDC. https://www.cdc.gov/hantavirus

2. World Health Organization. (2024). Hantavirus Disease Fact Sheet. Geneva: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hantavirus-disease

3. Kementerian Kesehatan RI. (2025). Kewaspadaan Dini Hantavirus di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI. https://www.kemkes.go.id

4. Jonsson, C.B., Figueiredo, L.T., & Vapalahti, O. (2010). A Global Perspective on Hantavirus Ecology, Epidemiology, and Disease. Clinical Microbiology Reviews, 23(2), 412-441.

Bagikan Artikel

Progress Membaca

Kemajuan0%

Baru mulai membaca

Artikel Terkait

Artikel Kesehatan Lainnya

Temukan artikel kesehatan menarik lainnya dari tim medis RS Vania Bogor

Ingin Membaca Artikel Kesehatan Lainnya?

Jelajahi koleksi lengkap artikel kesehatan dari tim medis RS Vania Bogor untuk informasi dan tips kesehatan terbaru.

Lihat Semua Artikel
Emergency CallTemukan DokterHubungi Kami