Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman kesehatan yang nyata bagi masyarakat Indonesia, terutama saat musim hujan tiba. Kota Bogor dan sekitarnya, dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, termasuk wilayah yang perlu mewaspadai penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini. Pencegahan yang tepat di tingkat rumah tangga adalah kunci utama untuk memutus rantai penularan DBD.
Mengenal DBD dan Cara Penularannya
DBD disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti. Nyamuk ini aktif menggigit pada pagi dan sore hari, dan berkembang biak di genangan air bersih yang tenang seperti bak mandi, tempayan, pot bunga berisi air, dan wadah-wadah penampungan air lainnya di sekitar rumah.
Gejala DBD yang Harus Dikenali
Gejala DBD meliputi demam tinggi mendadak (38-40 derajat) yang berlangsung 2-7 hari, nyeri kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual dan muntah, serta munculnya bintik-bintik merah (petekie) pada kulit. Waspadai tanda bahaya seperti perdarahan dari gusi atau hidung, muntah darah, BAB hitam, nyeri perut hebat, dan penurunan kesadaran yang memerlukan penanganan segera di rumah sakit.
3M Plus: Senjata Utama Pencegahan DBD
Gerakan 3M Plus adalah cara paling efektif mencegah DBD. Menguras tempat penampungan air minimal seminggu sekali untuk membasmi jentik nyamuk. Menutup rapat semua tempat penyimpanan air agar nyamuk tidak dapat bertelur. Mendaur ulang atau membuang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan seperti ban bekas dan kaleng. Plus: menggunakan lotion anti nyamuk, memasang kelambu saat tidur, memelihara ikan pemakan jentik, dan melakukan fogging di lingkungan yang terdapat kasus DBD.
Pemantauan Jentik Berkala
Setiap keluarga dianjurkan untuk melakukan pemantauan jentik nyamuk secara rutin di rumah. Periksa seluruh wadah yang berpotensi menampung air, termasuk bak mandi, ember, dispenser, vas bunga, tandon air, dan talang atap. Jika ditemukan jentik, segera kuras dan bersihkan wadah tersebut. Partisipasi aktif dalam kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) yang diselenggarakan oleh RT/RW setempat juga sangat dianjurkan.
Penanganan Awal di Rumah
Jika ada anggota keluarga yang dicurigai terkena DBD, berikan banyak cairan seperti air putih, oralit, atau jus buah. Berikan obat penurun demam yang mengandung paracetamol, hindari aspirin dan ibuprofen karena dapat memperparah perdarahan. Pantau kondisi pasien secara ketat dan segera bawa ke fasilitas kesehatan jika kondisi memburuk, terutama jika muncul tanda-tanda bahaya.
Kapan Harus ke Rumah Sakit?
Segera bawa penderita ke rumah sakit jika mengalami demam yang tidak turun setelah 3 hari, muntah terus-menerus hingga tidak bisa minum, perut terasa sangat nyeri, terdapat perdarahan dari lubang tubuh manapun, atau penderita menjadi sangat lemas dan tidak sadar. Pada hari ketiga hingga kelima demam (fase kritis), pemantauan ketat dari tenaga medis sangat diperlukan karena pada fase ini terjadi penurunan trombosit yang paling cepat.
Referensi
1. Kementerian Kesehatan RI. (2025). Situasi Penyakit DBD di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. https://www.kemkes.go.id
2. World Health Organization. (2023). Dengue and Severe Dengue Fact Sheet. Geneva: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
3. Kementerian Kesehatan RI. (2017). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
4. Dinas Kesehatan Kota Bogor. (2025). Laporan Tahunan Kasus DBD Kota Bogor. Bogor: Dinkes Kota Bogor.